“Bagaimana Cara Bersabar Tanpa Batas?”
Ada masa ketika aku berpikir bahwa menjadi dewasa berarti harus semakin pandai memahami orang lain.
Maka aku belajar diam ketika suasana tidak baik.
Belajar menahan kata-kata.
Belajar mengerti meskipun tidak selalu dimengerti.
Belajar menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kuubah, sekalipun aku sudah berusaha menjelaskannya dengan sebaik mungkin.
Tapi sampai hari ini, aku masih belum tahu apakah aku sudah benar-benar pandai bersabar.
Karena ada hari ketika aku bisa memahami.
Ada hari ketika aku bisa memilih diam.
Tetapi ada juga hari ketika aku lelah dan tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Haruskah aku bicara?
Haruskah aku diam?
Haruskah aku mendekat?
Atau justru mengambil jarak?
Aku masih sering bertanya-tanya.
Ada masa ketika aku bahkan belajar untuk berhati-hati saat tertawa.
Berhati-hati saat berbicara.
Berhati-hati ketika sedang menikmati sesuatu.
Bukan karena aku melakukan kesalahan.
Aku hanya terlalu terbiasa membaca suasana.
Mendengarkan suara.
Memperhatikan perubahan ekspresi.
Mencoba mengetahui apakah hari itu aman untuk menjadi diriku sendiri.
Dan ternyata kebiasaan itu tidak selalu hilang hanya karena usia bertambah.
Ada bagian dari diriku yang masih mudah terkejut oleh suara keras.
Masih merasa tidak tenang ketika suasana berubah.
Masih ingin memastikan semuanya baik-baik saja sebelum akhirnya mengizinkan diri sendiri untuk benar-benar beristirahat.
Kadang aku berpikir, mungkin inilah alasan mengapa aku begitu menghargai kesunyian.
Karena dalam sunyi, aku tidak perlu membaca suasana.
Aku tidak perlu menebak apakah seseorang sedang marah.
Tidak perlu memikirkan apakah tawaku terlalu keras.
Tidak perlu berhati-hati memilih kata.
Tidak perlu merasa bahwa ketenangan bisa berubah kapan saja.
Aku hanya bisa menjadi diriku sendiri.
Dan mungkin selama ini aku tidak sedang mencari rumah yang sempurna.
Aku hanya ingin sebuah tempat di mana aku tidak perlu terus berjaga-jaga.
Tempat di mana aku boleh makan dengan tenang.
Boleh tidur dengan tenang.
Boleh tertawa ketika sesuatu terasa lucu.
Boleh merasa bahagia tanpa takut suasana tiba-tiba berubah.
Aku ingin bisa pulang tanpa membawa rasa takut.
Namun aku tahu, aku belum sampai di sana.
Aku masih belajar.
Belajar membedakan mana yang menjadi tanggung jawabku dan mana yang bukan.
Belajar memahami orang lain tanpa harus selalu mengorbankan diriku sendiri.
Belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti aku harus mampu menerima semuanya.
Belajar bahwa mengambil jarak sesekali tidak selalu berarti meninggalkan.
Dan yang paling sulit, aku masih belajar menerima bahwa mungkin aku tidak akan pernah bisa membuat semua orang mengerti bagaimana perasaanku.
Aku tidak tahu apakah nanti aku akan selalu mampu bersabar.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan kembali lelah.
Mungkin akan ada hari ketika aku menangis lagi.
Ada hari ketika aku marah.
Ada hari ketika aku ingin pergi jauh dari semuanya.
Dan mungkin itu tidak membuat semua usahaku menjadi sia-sia.
Karena mungkin sabar bukan tentang tidak pernah lelah.
Mungkin sabar adalah ketika setelah lelah, aku mencoba kembali menemukan cara untuk tidak menyakiti diriku sendiri maupun orang lain.
Aku belum tahu bagaimana akhirnya.
Aku masih sering bingung.
Masih belajar menerima hal-hal yang tidak bisa kuubah.
Masih belajar melepaskan hal-hal yang bukan tanggung jawabku.
Masih belajar menjadi lembut tanpa membiarkan diriku terus terluka.
Jadi untuk sekarang, aku tidak ingin mengatakan bahwa aku sudah kuat.
Aku hanya ingin mengatakan:
aku masih mencoba.
Hari demi hari.
Pelan-pelan.
Kalau suatu hari aku kembali tidak tahu harus bersikap bagaimana, semoga aku ingat untuk berhenti sebentar, menarik napas, dan bertanya kepada Allah:
“Ya Allah, kali ini aku harus bagaimana?”
Mungkin aku tidak akan selalu punya jawabannya.
Mungkin aku tidak akan selalu mampu bersabar.
Tapi aku berharap, selama aku masih mau belajar, Allah tidak membiarkan hatiku kehilangan arah.
Dan mungkin untuk hari ini, itu sudah cukup.
Aku masih belajar.
Masih berjalan pelan.
Masih belajar menjadi rumah untuk diriku sendiri.
Dan masih percaya bahwa suatu hari nanti, aku akan tahu bagaimana rasanya hidup tanpa harus terus berjaga-jaga. 🌿